[Fanfiction] I Don’t Like This Love


PART 1

Kyuhyun’s side

Gadis itu sedang duduk sendiri di bangku taman kampus. Tempat itu telah menjadi tempat favoritenya sejak aku melihatnya untuk pertama kalinya setelah 10 tahun yang lalu. Tempatnya memang sangat sejuk karena terdapat pohon yang besar disampingnya. Dia suka sekali berada di tempat itu. Gadis itu terlihat biasa saja.

Tapi bagi mataku dan hatiku, dia berbeda dari yang lainnya. Karena hanya dia yang bisa membuatku tertarik padanya tanpa melakukan apapun. Hanya duduk disana setelah kuliah selesai sampai kakak laki-lakinya datang menjemputnya. Tidak ada yang istimewa dengannya. Hanya saja dia istimewa di hatiku.

Kami berada dalam satu kampus dan satu fakultas juga. Hanya saja dia dua tingkat lebih muda dariku. Aku mengenalnya sejak usianya 10 tahun. Dulu rumah kami bersebelahan tetapi keluargaku terpaksa pindah ke Seoul karena pekerjaan Ayahku. Dan akhirnya kami bertemu kembali di fakultas ini, tetapi dia tidak mengenaliku sama sekali. Apakah waktu 10 tahun membuatnya lupa padaku? Tapi setelah sepuluh tahun ini aku tidak bisa melupakannya. Mengapa?

“Masih disini?” seseorang mengejutkanku dan orang itu duduk disampingku. Dia berpangku tangan di atas meja kantin dan mengikuti arah pandanganku keluar jendela yang menghadap taman. “Karena gadis itu ? Siapa namanya lagi?”

“Park Yong Na,” jawabku. Kupandangi lagi gadis itu kini tengah sibuk merapikan rambutnya yang terhembus angin. Angin hari ini sangat kencang. Dan dia hanya memakai baju tipis. Dia akan kedinginan dengan hanya mengenakan pakaian itu.

“Ya, Park Yong Na. Apa bagusnya dia dipandangi dari sini? Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas,” ujar Yesung hyung tapi tidak begitu ku perdulikan karena aku sibuk melepaskan jaketku untuk diberikan padanya.

“Kau melihatnya dengan jelaskan? Berikan ini saja padanya,” kataku sambil menyodorkan jaketku pada Yesung hyung.

“Mwo? Kenapa bukan kau saja yang memberikannya,” tolak Yesung hyung. Aku langsung memasang wajah puppy-eyes ku. Itu membuatnya bergidik ngeri. “Jangan memasang wajah seperti itu mukamu menjadi aneh tahu.”

“Ya sudah, cepat berikan padanya,” desakku lagi. Aku memang bisa memberikannya sendiri tetapi aku masih belum bisa mendekatinya. Tidak sekarang.

Yesung hyung akhirnya menyambar jaketku dan berjalan ke arah gadis itu, tidak lupa dengan gerutuannya. Aku tersenyum puas. Setidaknya gadis itu tidak kedinginan saat menunggu kakaknya datang.

 

Yong Na’s side

Menunggu. Sebenarnya hal itu adalah hal yang paling membuatku tidak suka. Tapi harus ku lakukan karena Ibuku tidak pernah mau membiarkanku pulang sendirian. Ibu selalu merepotkan Jungsoo Oppa untuk menjemputku. Padahal aku sudah berusia 20 tahun sekarang,  bukan lagi anak kecil yang akan hilang jika di biarkan pulang sendirian. Orang-orang menganggapku seperti anak manja yang masih bergantung pada keluarga.

Sekali lagi aku merapikan rambutku yang tadi kubiarkan tergerai. Muncul rasa sesalku karena tidak membawa sesuatu untuk mengikat rambutku. Aku tidak tahu kenapa Jungsoo Oppa belum datang-datang juga padahal sudah hampir lewat setengah jam dari biasanya. Sambil meratapi nasibku, tiba-tiba seseorang datang menghampiriku dan menyodorkan sebuah jaket bewarna hitam padaku.

Aku mengenali wajahnya sebagai seniorku tetapi dia dari fakultas art voice sementara aku dari fakultas modern music. Aku memasang wajah bingungku padanya.

“Pakai saja. Aku hanya disuruh memberikan ini padamu. Jadi jangan banyak tanya,” ucapnya sambil menyampirkan jaket itu di tubuhku. Disuruh? Oleh siapa? Tapi sebelum aku bertanya padanya dan berterimakasih dia sudah berjalan menjauh meninggalkanku.

Sungguh baik orang yang menyuruhnya itu. Aku memang sedang kedinginan. Padahal tadi pagi matahari masih bersinar tetapi sekarang malah mendung. Sekitar limabelas menit kemudian Jungsoo Oppa datang. Dia kelihatan seperti habis berlari 10 kilometer begitu melihat keringatnya yang bercucuran.

“Habis mengejar anjing mana, Oppa?” tanyaku kesal.

“Mianhae. Mobilku mogok jadi terpaksa aku berlari kesini,” jawabnya dengan napas terputus-putur. Rasa bersalahku kembali muncul. Aku selalu saja membuatnya repot. Padahal semestinya, aku sudah bisa pulang sendiri.

“Kau harus membujuk omma. Aku bukan anak kecil lagi yang perlu diantar-jemput olehmu,” kataku.

“Tidak ada yang bisa melawan keinginan eomma. Apalagi semenjak kau kecelakaan.”

Aku terdiam. Oppa kembali mengingatkanku tentang kecelakaan yang sama sekali tidak ingin ku ingat. Rasanya tidak menyenangkan ketika mengingat saat kau mengira kau tidak bisa lagi menghembuskan nafas di dunia.

Aku tidak bisa menghilangkan memoriku tentang kecelakaan itu. Jadi aku berusaha menguburnya dalam-dalam. Aku bisa merasakan tubuhku melayang jauh dan terhempas seperti benda. Sekujur tubuhku terasa sakit dan tidak bisa bergerak. Terlebih lagi saat darah mengalir keluar dari tangan, kaki, dan kepalaku. Saat itu aku sudah positif berpikir aku tidak akan pernah hidup lagi.

Sejak saat itu Ibu sangat over protektif kepadaku. Suatu keajaiban aku masih bisa hidup setelah kecelakaan itu. Dokter mengatakan hampir seluruh tulang rusukku patah dan mengganggu kerja jantungku. Butuh waktu 3 tahun untuk membuatku bisa berjalan kembali. Jadi jangan heran jika aku terlihat aneh ketika berjalan. Kakiku sudah tidak sekuat dulu. Aku tidak bisa berlari dan mengangkat beban yang berat. Semuanya menjadi terbatas.

Aku tidak pernah mengeluh karena tuhan telah berbaik hati dengan hanya membiarkanku tetap bernafas. Apalagi yang harus ku keluhkan ?

Kyuhyun’s side

 

“Terima kasih, hyung,” ucapku dengan tulus ketika Yesung hyung datang dan duduk kembali di sampingku.

“Always welcome. Kapan kau berani menampakkan wajahmu didepannya?” tanya Yesung hyung. Aku menghela nafas panjang. Bukan pertama kalinya Yesung hyung menanyakan itu padaku. Sudah hampir seribu kali dia menanyakan itu.

Hanya Yesung hyung yang tahu jika aku menyukai gadis itu. Teman-temanku yang lain tidak ada yang tahu tentang ini. Ku pikir lebih sedikit yang tahu lebih baik. Lagipula siapa yang mau peduli aku menyukai gadis itu.

“Sampai tangki keberanianku penuh. Aku belum yakin dia akan mau menerimaku walau hanya sebagai temannya,” jawabku.

“Kau benar-benar bodoh. Belum tentu dia menolakmu. Kenapa kau tidak mencobanya dulu?”

Aku tersenyum kecil. Yong Na bukan orang yang gampang melupakan sesuatu apalagi melupakan kesalahanku yang pernah ku buat padanya. Memorinya sangat kuat tidak seperti orang yang cepat melupakan sesuatu. Sudah ku bilang dia itu berbeda. Dia istimewa. Tapi mengapa dia melupakanku?

“Lama-lama aku bingung padamu. Sudah, aku tidak mau lagi mengurusinya. Urusi dia sendiri saja,” kata Yesung hyung kemudian beranjak dari duduknya. Aku mengikutinya dan mengambil tas dan buku-bukuku.

“Hyung, mau bertanding game? Yang kalah harus mentraktir makan! Bagaimana?”

 

TBC

[10 Oktober 2012 | 15:52]

One thought on “[Fanfiction] I Don’t Like This Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s