Dear Mom :”


Ibu, orang yang pertama akan menelponku ketika aku terlambat pulang. Ibu selalu marah ketika aku pergi ke rumah teman dan pulang malam. Ibu akan menjadi orang yang paling cerewet ketika aku sakit. Ibu yang akan mengatakan dia tidak akan memperdulikanku lagi ketika aku membuatnya menangis dan sakit hati. Tapi pada kenyataannya dia tidak pernah membuktikan ucapannya. Ibu yang selalu kusakiti hatinya.

Ibu selalu pusing memikirkan kami, anak-anaknya. Tetapi kami tidak pernah pusing bagaimana susahnya menjadi dia. Ibu selalu merasa bersalah setelah dia memarahi kami. Ibu yang selalu melindungi kami ketika Ayah marah. Tetapi kami tidak pernah meminta maaf ketika kami melakukan kesalahan.

Ibu men jadi orang yang pertama kucari ketika aku merasa tidak mampu. Ibu orang pertama yang ku telpon ketika maagku kambuh dan merasa kesakitan. Ibu orang pertama yang datang ketika aku mendapat kecelakaan motor. Ibu sendiri yang menjagaku ketika aku masuk rumah sakit karena demam berdarah. Ibu adalah orang yang akan mengelilingi seluruh pasar hanya untuk mencari rok putih saat tujuhbelasan.

Ibu tidak pernah mengeluh saat aku menangis ketika aku masih kecil. Ibu mengandungku, membawaku di dalam perutnya selama sembilan bulan. Ibu mempertaruhkan nyawanya demi melahirkanku. Ibu membesarkanku hingga sekarang. Ibu bekerja keras untuk membiayaiku, membelikanku apa yang kubutuhkan. Ibu yang akan memasak makanan yang paling enak diseluruh didunia ketika aku tidak mau makan. Ibu mengajakku ke tempat yang tidak pernah ku datangi.

Aku selalu membuat Ibu panik dan khawatir. Ketika aku hilang di supermarket ketika umurku tujuh tahun. Ketika aku hampir jatuh dari jendela di lantai dua gedung kantornya saat aku masih balita. Ketika aku muntah-muntah ketika aku keracunan obat. Ibu yang paling tidak terima saat itu. Aku merasa bersalah. Aku membuat Ibu susah dan kecewa.

Aku selalu berpikir bagaimana hidupku ketika tidak ada Ibu. Aku tidak berani. Aku tidak pernah tau apa yang harus kulakukan ketika Ibu tidak ada di dekatku. Tapi dimasa depan, Ibu tidak selamanya bisa hidup bersamaku. Aku dituntut untuk bisa bertanggung jawab sendiri atas hidupku. Aku hanya akan menangis ketika aku merasa tidak bisa mengatur hidupku sendiri. Aku tanpa Ibu butiran debu.

Ada hal yang ingin kukatakan Ibu. Tapi aku terlalu egois. Aku terlalu malu untuk mengatakannya. Tapi walaupun aku tidak pernah mengatakannya, aku ingin dia tahu. Bahwa aku mencintainya dan aku ingin meminta maaf sudah menjadi anak yang tidak tahu berterima kasih. Mianhae… :’’

Untuk Ibuku yang berada di pulau berbeda denganku. Kita hanya dihalangi oleh lautan yang luas. Untuk Ibuku yang bahkan bisa berperan sebagai Ayah untukku. Untuk Ibuku yang kata adikku, Ibu yang perkasa yang dapat melakukan hal apapun dengan kedua tangannya. Untuk Ibuku yang ku kasihi. Tulisanku ini bukan hanya menggambarkan apa yang terdapat didalam hidupku. Tulisan ini menggambarkan hatiku padamu. Masih banyak yang ingin ku katakan dan ungkapkan pada Ibu. Tetapi kertas ini tidak bisa menampung seluruhnya, jika harus ku jabarkan 16 tahun hidupku bersama Ibu.

Hal yang paling penting, Ibu adalah orang pertama yang ternyata paling mengerti hatiku. Dan Ibu yang ingin terakhir kali ku lihat ketika aku akan pergi selamanya, meski itu mustahil. Eomma Saranghanda❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s