ChitChat : 할모니 사랑함니다 !


Satu hal baik yang saya dapat saat belajar tentang agama tadi di sekolah. Kami diminta untuk mempraktekkan cara merawat jenazah. Kata ‘jenazah’ serta merta mengingatkan saya pada jenazah pertama yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Jenazah halmoni.

Saat Halmoni pergi, rasanya sebagian dari diriku ikut terbawa. Mungkin karena dari kecil selalu di titip sama Halmoni jadinya tergantung. Kalau Ibu pergi ke luar kota sama Ayah pasti cuma Halmoni yang selalu dimintai tolong buat jaga para Dongsaengku.

Rasanya air mataku yang keluar seperti mengering karena mengalir terus sepanjang hari. Sebenarnya saya terlalu takut sama mayat. Saya terlalu takut sama kematian. Jadi saat Halmoni sudah di kafani, para sepupuh sudah berjejer untuk mencium Halmoni untuk terakhir kalinya. Kecuali saya, tentunya. Walaupun untuk yang terakhir kalinya, saya tidak berani menyentuh jenazahnya. Saya hanya berdiri di sudut ruangan sambil menonton.

 

Nappeun ! grandma is the best mom I’ve ever seen. Saat anak-anaknya berkelahi, she just can pray. She hope her children never fight again if she died.

Dan kematian, saya memang juga takut dengan kematian. Dikubur dalam tanah yang gelap dan pengap bahkan sempit jika amal baik lebih sdikit daripada amal buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s