FF : A Memories of You :)


A Memories of You

****
Malam ini begitu sepi dan hening. Hembusan angin yang cukup kencang menerbangkan rambutku yang ku gerai bebas. Aku berada di taman ini sejak beberapa jam lalu.malam ini aku kembali menjadi orang bodoh. Aku menunggu dan terus menunggu seseorang yang ku tak tahu akan datang atau tidak. Tapi hatiku tetap mengatakan aku harus menunggunya.
Angin kembali bertiup dengan kencang. Dan aku pun semakin merapatkan mantel yang kupakai. Dingin sekali. Aku jatuh terduduk di atas tanah. Air mataku perlahan mengalir dari pelupuk mataku dan terus mengalir tanpa kendaliku. Aku tak mengeluarkan suara. Hatiku sakit dan rapuh. aku sudah lelah begini. Aku sudah lelah menunggunya lagi.
Sekelebat ingatan akan hal itu kembali berputar kembali di dalam otakku. Dan itu membuatku semakin tersiksa. Aku benar-benar merindukannya. Mendengar suaranya. Merasakan hangat tubuhnya. Melihat tatapan matanya yang teduh. Memberikanku semangat ketika saat ku mulai menyerah pada suatu hal.
Aku memeluk kedua lututku dengan erat. Udara kota seoul semakin mendingin saja. Aku benar-benar membutuhkannya di sini. Aku ingin dia kembali.
Tiba-tiba sesorang datang dan langsung membantuku berdiri. Dia Yong Na, sahabatku. Yong Na menatapku dengan kasihan dan nanar.
“Sampai kapan kau terus begini?” Yong Na membentakku dan membuatku tersentak. Aku hanya menangis di bentaknya.
“Ku beri tahu padamu, sampai kapan pun ‘dia’ tak kan pernah datang ke taman ini lagi. Berhentilah berharap. Karena semua orang tahu harapanmu itu kosong. Lepaskanlah dia, biarkan dia pergi dengan tenang.” Kata Yong Na memohon. Aku masih menangis dan langsung memeluknya.
“Aku tahu, Yong Na-ah. Aku tahu. Tapi biarkan aku berharap, walaupun itu tidak mungkin terjadi. Aku merindukannya. Dia pernah berjanji padaku takkan pernah meninggalkanku. Tapi kini dia pergi!” isakku.
“Sudahlah Eun Gi. Cobalah lupakan dia. Hapapilah dunia nyata ini. Aku juga yakin dia juga tidak menginginkan kau terus mengharapkan dia disampingmu. Dia sudah bahagia bersama tuhan! Ayo kita pulang, kajja” Yong Na melepaskan pelukanku dan memegang tanganku dan kami pun berjalan pulang. Mungkin memang benar. Dia takkan mungkin kembali. Dia takkan pernah kembali.

Aku mengeluarkan sebuah box besar yang sudah agak berdebu di gudang apartemenku dan membersihkan debu yang masih menempel di box itu. Sudah hampir 2 tahun aku menyimpan box ini dan tak pernah sekalipun aku buka. Hatiku sedikit berdesir saat membuka box itu. Semua isi dari box itu kembali mengingatkanku pada seseorang yang sangat berarti di hidupku. Seseorang yang mampu membuatku tertawa padahal saat itu aku sedang sedih berat. Seseorang yang selalu membangkitkan semangatku saat aku mulai menyerah. Seseorang yang selalu siap menghapus air mataku dan mau meminjamkan pundaknya saat aku sedang menangis.
Dia tidak pernah mengeluh walaupun aku selalu saja merepotkannya. Dia selalu mengulurkan tangannya untuk membantuku saat aku terjatuh. Dia tidak pernah bosan mendengarkan semua keluh kesahku yang ku tumpahkan padanya. Dan itu semua membuatku tak rela melepaskannya dan akupun jatuh cinta padanya.
Namanya adalah Zhou Mi. Dia berasal dari negeri China. Tapi karena orang tuanya pindah ke Seoul karena tuntutan pekerjaan, akhirnya dia ikut karena tak mau tinggal sendirian di China. Saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMA dan kebetulan dia sekelas denganku. Awalnya aku tak begitu dengannya, namun karena dia kurang mampu dalam berbahasa Korea, sedangkan aku memang sudah pandai berbahasa Korea dan Mandarin sejak kecil. Dan jadilah aku yang ditunjuk oleh Shin Songsaegnim untuk menjadi guru bahasa Koreanya.
Aku mengeluarkan sebuah syal bewarna biru yang sudah kusam. Syal ini merupakan pemberiannya saat aku berhasil menyelesaikan semua soal matematika yang di berikannya padaku.
Flashback.
Aku menutup bukuku dan memasukkannya ke dalam tas. Hari ini aku habis mengajari Zhou Mi bahasa Korea. Sangat melelahkan mengajarinya. Sudah aku jelaskan mati-matian pembelajaran tentang huruf dan angka dalam bahasa Korea, tapi dia hanya melongo tak mengerti sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.
“Hari ini sampai di sini dulu! Kau harus belajar dengan sungguh-sungguh kalau ingin pandai berbahasa Korea, lama-lama aku mengundurkan diri jadi gurumu kalau kau masih juga tak mengerti!” pesanku pada ZhouMi dalam bahasa Mandarin.
Dia hanya nyengir. “Aku pusing melihatnya. Otakku serasa mau pecah. Lebih baik jika aku mengerjakan 100 nomor soal matematika daripada belajar bahasa korea.”
Aku hanya mendengus mendengarnya. Dia mulai menyinggung soal kelemahanku. Aku paling tidak suka dengan pelajaran matematika. Jadi wajar saja jika tak ada satupun nilai yang ku dapat yang tidak bewarna merah. Seangkan dia merupakan salah satu siswa yang mempunyai otak jenius dalam pelajaran matematika.
“Ngomong-ngomong soal matematika, kau tahukan kalau Park Songsaegnim memberi kita tugas matematika yang harus di selesaikan?” tanyaku padanya. Dia mengangguk.
“Nah kalau begitu kau harus mengerjakan tugas matematikaku ini karena aku sudah berbaik hati mengajarimu bahasa korea, ok?” pintaku sambil tersenyum.
“Mengapa harus aku yang mengerjakan semua tugas matematikamu? Kita kan bisa mengerjakannya bersama?” aku pun langsung merenggut mendengar jawabannya dan akhirnya aku mengerjakan tugas matematikaku itu di bantu oleh Zhou Mi.
Sejak saat itu aku dan Zhou Mi saling membantu satu sama lain. Setelah aku mengajarinya bahasa Korea, dia yang kemudian mengajariku pelajaran Matematika, pelajaran yang dulunya sangat ku tidak sukai malah perlahan menjadi sangat mudah karena bantuan Zhou Mi.
Sampai suatu hari dia menantangku untuk mengerjakan beberapa soal matematika yang dia buat untuk aku kerjakan. Dan aku mengerjakannya dengan sangat baik. Lalu dia memeriksanya dan hasil jawabanku benar semua. Dan dia memberiku syal bewarna biru, warna kesukaanku ini sebagai hadiah atas keberhasilanku menjawab semua soal-soalnya.
Saat itu juga hubungan kami semakin dekat. Hingga aku merasakan sesuatu yang berbeda saat aku bersamanya tapi saat itu aku sama sekali tak tahu apa yang sedangku rasakan saat itu.
Flashback END.
Dadaku kembali sesak, tanganku bergetar memegang syal biru pemberian Zhou Mi ini. Aku menepuk-nepukkan syal itu agar debu yang menempel itu hilang dan menaruhnya.
Aku kembali mengamati kembali isi box itu. Di dalamnya banyak sekali barang-barang yang berkaitan dengan Zhou Mi. Aku memang menaruh semua barang-barang yang bisa mengingatkanku pada Zhou Mi dalam box itu. Memang gampang saja ku buang box itu jauh-jauh, tapi aku tidak bisa melakukannya. Jadinya ku simpan saja box itu dalam gudang apartemenku. Dan entah mengapa hari ini aku tiba-tiba teringat pada box ini.
Dan aku pun kembali membongkar semua isi box itu. Terdapat beberapa foto Zhou Mi yang tersenyum manis dan terlihat bahagia. Aku meraih salah satunya dan kupandangi foto itu lama sekali, sampai-sampai aku tak sadar air mataku telah jatuh. Aku pun menangis sambil memeluk foto itu.
Keesokan harinya, aku pergi ke makam Zhou Mi bersama dengan Yong Na. Aku lalu turun dari mobil dan berjalan sendirian ke makam dan memandangi gundukan tanah merah, tempat Zhou Mi kini berbaring.
“Annyeonghaseyo, Zhoumi-ah, bagaimana kabarmu hari ini?” tanyaku meskipun aku tahu Zhou Mi takkan bisa menjawab pertanyaanku lagi. “Lihat sekarang aku kembali menepati janjiku, yaitu menjadi seorang dokter. Itu yang kau mau kan?”
Air mataku kembali mengalir. “Aku sudah menjadi dokter seperti maumu. Seandainya aku menjadi dokter lebih cepat, mungkin aku masih bisa mengobati penyakitmu itu, Zhou Mi-ah,” isakku sambil memandangi batu nisannya.
“Kau ini sungguh bodoh. Bodoh sekali, seandainya kau memberi tahu tentang penyakitmu itu, mungkin sekarang kita masih bisa bersama ah!” lirihku pelan. “Seandainya bisa, aku ingin mengulang kembali waktu. Tapi aku tahu itu tak mungkin.”
“Zhou Mi-ah harus bagaimana aku sekarang? Melanjutkan hidupku tanpamu? Aku bingung Zhou Mi-ah, bantu aku! Bantu aku melupakan semua tentang dirimu dan memulai hidup baru tanpamu di sampingmu! Zhou Mi-ah….
“Ya! Eun Gi-ya! Ini sudah terlalu sore. Ayo kita pulang!” Yong Na tiba-tiba muncul disampingku. Aku membersihkan air mataku dengan sapu tanganku. Aku mengangguk. Yong Na pun menggandeng tanganku kembali ke mobil.

~~THE END~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s